Langsung ke konten utama

Postingan

PULANGLAH - Jika Sudah Merasa Cukup

Pada dasarnya semua manusia pasti diciptakan saling membutuhkan dan saling bergantung satu  sama lain. Jika bisa ku katakatakan, semua orang punya sebagian masalah yang tidak bisa di selesaikan sendirian. Maka, muncullah manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. Tak terkecuali manusia dengan tingkat kemandirian yang amat sangat tinggi. Entah kenapa, malam ini aku ingat Ibu, seorang mandiri, wanita kuat dan super sabar, yang sudah membesarkan saya sampai segede ini. Ingatnya pun karena saya butuh uang; masaku sekarang masih bergantung dengan duit orang tua karena tak punya tabungan dan masih bulan pertama kerja; klasik memang. Tapi, terlepas dari semua itu saya yang sudah segede ini, tidak bisa dekat dengan Ibu, saya hanya bercerita seperlunya yang menurut saya itu perlu untuk Ibu saya ketahui; misal pindahan kos, pacar, dan tentu saja uang; dan karena pikiran itu, timbul pertanyaan dalam benak hati terdalam "Ibuk nek ono masalah karo uneg-uneg, cerito nang sopo ya? ...

Curhat..... 16.27

Bekerja.. Mendengarnya saja aku sudah membayangkan sebuah kesibukan yg tiada henti. Pada awal saya memburu "pekerjaan", tentu hal yg saya pilih adalah pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang saya geluti di bangku kuliah. Namun, seiring berjalannya waktu. Karena saya tidak ingin menganggur terlalu lama, saya mulai berpikir yg mungkin bisa dibilang "logis". Saya mulai mencari pekerjaan yang melencong dari gelar yang sudah diraih. Daaaan, alhasil saya akhirnya mendapatkan pekerjaan yang "agak melencong" itu.  Sekarang ini, saya bekerja sebagai admin (tapi itungannya masih training sih, masih belum tetap). Admin ini di sebuah studio foto kecil do dekat kampus saya tercinta. Eh, mantan kampus ya. Hehehe.  Saya sebenarnya dari awal datang melamar ke tempat ini sudah optimis akan di terima. Karena terlihat dari suasana dan cara kerja pun cukup mudah. Tidak perlu banyak latihan untuk mendalami.  Jadi, admin di sini selain pintar berkom...

19.39 WIB

Keluhan lagi, sepertinya manusia kayak saya ini ga akan lepas dari namanya keluhan. Jadi bulan lalu, saya dapet tawaran untuk nulis naskah (lagi) di film pendek. Film ini nantinya akan jadi film karya temen saya biar dia bisa lulus dari kampus. Anyways, di kampus saya itu kalau mau menyabet gelar S1 bisa ada dua pilihan, yaitu menyelesaikan skripsi atau buat karya film fiksi/dokumenter/program tv. Nah temen saya ini, minta tolong buat bikin naskah. Pertama saya meragukan diri saya sendiri apakah bisa nulis naskah lagi?. Temen saya ini percaya sama saya, kalau saya bisa nulis naskah. Oke di ciptakanlah naskah dengan ide cerita dari temen saya. Naskah draft 1 udah jadi, temen saya bilang ada revisi. Cukup lama sih nunggu hasil revisi di kirim ke saya. Dan akhirnya kemarin malam saya menerima naskah hasil revisi dan ternyata udah jadi draft 2 (omooo...). Padahal saya yang nulis naskahnya yak, harusnya setelah saya revisi baru biasa jadi draft 2 (kalau sesuai prosedur) Ternyata, teman ...

Permintaan Maaf oleh Pengecut yang Mencoba berubah

Dari kejadian buruk, saya jadi tau apa itu nikmatnya hidup. Selama ini saya hanya hidup dalam bayang bayang iri, dengki, dan putus asa. Tapi jika saya membicarakan perasaan kelam ini kepada orang yang tepat, hati saya menjadi tenang. Mereka selalu mengingatkan saya, bahwa wajar manusia membuat satu atau dua kesalahan, wajar manusia memiliki sifat jelek. Tapi, manusia juga berhak menjadi manusia yang baik kok. Dan saya bisa menjadi manusia yang baik. Tentu proses menjadi manusia yang baik butuh perjuangan yang berat. Dari niat baik itu pun, akan banyak cobaan bermunculan. Cobaan itulah yang nanti akan membuat kita merasa sudah gagal dan akhirnya menyerah. Sebaiknya, kalau sudah menghadapi rasa yang sangat buruk seperti itu, berceritalah. Maka semuanya akan baik baik saja. Ketika kita putus asa akan diri kita sendiri, teman bicara adalah obat yang mujarab.  Semua orang punya standar masing-masing dalam hal kebaikan dan keburukan. Semua orang tidak memiliki pendapat yang sama. Ya...

Netizen Sensitif

Tulisan ini terinspirasi dari seorang teman. Kebetulan si temen ini satu kampus. Kegundahan bermula waktu membuka story what's up dan muncullah story milik si teman ini. Kira kira storynya itu nunjukin kalau dia lagi lancar-lancarnya mencapai sesuatu yang dia inginkan. Dan doi cukup sering share publik tentang kelancaranya itu. Nah, trus kenapa saya jadi gundah? Entah kenapa setelah melihat story tersebut saya jadi berpikir "kenapa ya momen dia yg begitu harus dibuat story? Apa si temen ini ga takut dibilang pamer ya?" Jujur sebenernya saya ikut senang mendengar bahwa segala jalan yang dia inginkan sudah tercapai dan lancar. Tapi sejujurnya lagi, saya khawatir kalau orang lain akan menilai berbeda, yang saya maksud orang-orang yang tidak tau si teman saya ini orangnya gimana akan menilai buruk status yg dia buat. Saya juga termasuk aktif di media sosial dan tidak jarang saya juga pamer kesenangan yang saya rasakan, sama halnya dengan teman saya tadi. Dia sebenarnya h...

Bertahan dalam Hujan

Hari ini bisa dibilang adalah hari pertama saya agak serius mencari pekerjaan setelah sarjana. Kenapa agak serius karena surat lamaran dan cv pun disiapinnya mendadak. Jadi begini ceritanya, tempo hari saya diajak sama temen untuk ikutan job fair di UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta). Dalam acara job fair itu ada banyak perusahaan yang nggak saya kenal dan beberapa saya tau itu jenis perusahaan apa. Dari beberapa perusahaan yang saya tau ini, saya rasa tidak ada yg cocok dengan kemampuan saya sbg orang yg masih suka sama dunia pertelevisian dan perfilman. Yaa, meksipun banyak yg bilang bahwa kerja itu ga harus sesuai kamu kemarin sekolah apa, tp menurutku itu salah, karna akan sia-sia kuliah saya nanti kalau nggak dapet kerja sesuai dengan apa yg saya tempuh saat kuliah. Nah, ini juga berhubungan dengan job fair di UMS tadi, sebenarnya saya nggak antusias sama acara itu, tapi karena penasaran job fair itu modelnya seperti apa dan atas asas ikut-ikutan temen jadilah saya memutusk...

Melihat Dari Sisi Lain

Kegelisahan ini bermula dari sebuah tempat makan di dekat kampus saya, mahasiswa disini biasa menyebutnya dengan hik jembatan biru. Nah, waktu itu saya dan temen sudah selesai makan malam. Nah, di sana saya bertemu dengan dua pasangan sejoli. Mereka lagi buka-buka instagram. Sedangkan diriku masih asik2nya nonton tv (maklum di kos ga ada tv). Pas lagi enak2nya nonton, salah satu pasangan sejoli ini menyodorkan handphone, si doi bermaksud nunjukin potongan video yg isinya lagu justin bieber berjudul baby yg di rewind. Nah hasil rewind lagu itu sempet bikin saya heran, kenapa? Karena hasil rewind itu nunjukin kalau lirik dari lagu baby jika di rewind/dibalik menghasilkan lirik dengan kalimat yg seperti mantra or whatever is it, kayak nyembah dajjal. Nah yg buat saya kaget, setelah video rewind lagu baby itu di puter, ada tayangan semacam dakwah dari seorang entah itu ustadz atau apa, yg pasti dia pemuka agama. Ustadz itu bilang kalau kita harus hati-hati sama budaya luar, terutama musik...